Vanili atau Vanila Planifolia adalah tanaman dengan bentuk buah seperti polong dan tebal, dimana Vanilla Planifolia masuk dalam keluarga Anggrek-anggrekan (Orchidaceae). Tanaman vanili pertama kali dikenal oleh orang-orang Indian di Meksiko, negara asal tanaman tersebut serta nama daerah dari vanili adalah Panili atau Perneli. Vanili memiliki banyak manfaat bagi manusia tidak saja dikenal hanya sebagai rempah untuk menambah kelezatan dalam makanan, ternyata vanili juga dapat digunakan untuk pembuatan parfum bahkan memiliki sejumlah manfaat penting bagi kesehatan, seperti; meningkatkan pertumbuhan rambut, mempercepat penyembuhan, mengurangi peradangan, mencegah penyakit kronis, melindungi jantung dan mengatasi masalah jerawat. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag) Vanili kerap disebut sebagai 'emas hijau' karena memiliki nilai ekonomis serta harga jual yang tinggi. Biji vanili mencapai harga tertinggi di tahun 2018, yakni US$650/kg atau hampir Rp 10 juta/kg bila pakai kurs saat ini. Namun, pada tahun 2020, harga biji vanili terkoreksi menjadi US$200/kg (sumber: CNBC 2022). Urain diatas tentu menjadi sebuah daya tarik dan perhatian bagi sivitas akademika, khususnya bagi PIBK STIE-IBEK untuk lebih mengenal lebih dekat tumbuhan Vanila serta mendapatkan informasi terkait dengan komoditi ini dalam konteks bisnis. 

Kunjungan ke Greenhouse Vanili Bangka

Ternyata PIBK STIE-IBEK mendapatkan kesempatan yang sangat baik, ketika terdapat mahasiswi bernama Marsella mengenal seorang pembudidaya tumbuhan Vanili di seputaran Kabupaten Bangka Tengah. Tidak hanya itu, pendiri dari Greenhouse Vanili yaitu Bapak Yusuf Lie, bersedia meluangkan waktunya bahkan dengan hangat menerima kedatangan sivitas akademik di hari Minggu sore (18/09/22). Bapak Yusuf menjelaskan ketika kami duduk pondopo lingkungan Greenhousenya, bahwa untuk batang dari vanili sendiri biasa digunakan Tajar. Satu tajar bisa menampung hingga empat batang vanili. Satu batang vanili memiliki dua jalar artinya satu tajar dapat menampung delapan jalar.

Lebih lanjut Bapak Yusuf menjelaskan bahwa satu jalar memiliki beberapa tuas, dan di tuas inilah yang nantinya akan ditumbuhi bunga vanili yang nantinya akan di polinasi. Salah satu mahasiswa Bernama Marsella bertanya kepada Pak Yusuf untuk estimasi waktu yang diperlukan untuk vanili dari awal hingga dapat dipanen memerlukan waktu berapa lama dan jawaban Bapak Yusuf menjawab lama usia panen vanili rata-rata 13  bulan sampai 15 bulan dengan produktivitas 5-6 Kg per tajar, dengan harga rata-rata 3 juta – 10 juta per kilogramnya tergantung kualitas yang dihasilkan. Terdapat klasifikasi beberapa Grade, seperti; Grade A, Grade B, Grade C. Untuk bibit yang dibudidaya pada Greenhouse memiliki kualitas unggul, bibit atau benih dari Lampung dan Bali. Bibit yang bagus biasanya memiliki panjang hingga 2 meter dan bibit yang diambilnya langsung dari Lampung dan Bali tersebut adalah induk vanili yang sudah berusia 20 tahun.

Setelah sedikit berbincang-bincang dosen dan Pak Yusuf berbicara mengenai negara dengan penghasil vanili terbesar di dunia. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), Madagaskar menempati urutan pertama sebagai produsen vanili terbesar di dunia dengan produksi mencapai 2.975 ton pada 2020. Indonesia sendiri berada di urutan kedua dengan produksi sebanyak 2.306 ton. Terdapat beberapa produksi vanili yang ada di Indonesia, yaitu Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara, NTT, Yogyakarta, Papua, dan beberapa daerah di Pulau Sulawesi. Urutan ketiga ditempati oleh Meksiko dengan produksi sebanyak 589 ton vanili. Kemudian setelahnya di Papua Nugini dan Tiongkok masing-masing sebesar 495 ton dan 433 ton. Setelahnya, kami tim PIBK diajak oleh Bapak Yusuf untuk melihat perkebunan vanili miliknya, disana kami dapat melihat beberapa metode penanaman vanili, tajar yang digunakan ada yang menggunakan kayu, coco peat, dan lain sebagainya. Pak Yusuf menjelaskan untuk enam bulan pertama vanili haruslah mendapatkan perhatian khusus, seperti disiram dan diberi pupuk secara teratur. Dan setelah lewat enam bulan pertama vanili cukup diberi pupuk saja, karena vanili termasuk kedalam keluarga Anggrek-anggrekan (Orchidaceae) kecuali jika saat cuaca sedang panas vanili harus disiram air.

Ketika sedang berjalan menelusuri kebun vanili, Pak Yusuf juga memberikan motivasi mengenai peluang yang ada pada vanili, “untuk komoditas vanili bisa dikatakan prospeknya sangat menjanjikan” ujar Pak Yusuf, beliau juga menambahkan kalau bisa yang nanti yang kita export adalah vanili kering atau dalam bubuk, karena itu akan menambah nilai jual dan nilai ekonomis-nya. Ada salah satu pepatah orang Tionghoa yaitu “Chon To Mo Ngin Ti” yang memiliki arti untung banyak, tidak ada orang yang tau, dari pepatah tersebut dapat diartikan kita memahami peluang dari komoditas vanili memiliki banyak potensi dan nilai jual yang tinggi, tetapi tidak semua orang mengetahui hal tersebut. Oleh karenanya tim PIBK sangat termotivasi oleh Pak Yusuf yang dapat melihat peluang dan potensi dari komoditas vanili.

Setelah Pak Yusuf mengajak Tim PIBK mengelilingi perkebunan vanili, kunjungan tersebut berakhir. Kunjungan yang dihadiri oleh delapan orang, yang terdiri dari dua dosen yaitu Bapak Rizal R. Manullang dan Bapak Fery Panjaitan, satu bagian keuangan, Ibu Rina, dan lima mahasiswa yaitu, Servia Jovian, Mersella, Sheren Marshal Lie, Noven Deyan Sukandar, dan Kevin Pratama diakhiri dengan foto bersama bersama Pak Yusuf Lie. (SEJ)