|
Page 1 of 2 'Sebuah Renungan Untuk Memperingati Hari Air se-Dunia tanggal 24/04 dan disadur dari Babel Pos (24/04/10)." Oleh Ir. Pan Budi Marwoto, M.Si - Dosen STIE-IBEK Babel Bagi umat manusia, termasuk masyarakat Bangka Belitung yang sudah mulai melupakan kodrat pentingnya air, air adalah karunia alam yang tidak bisa diproduksi. Sejak bumi ini terbentuk sebagai planet yang khas, dengan segala kehidupan di atasnya, jumlah air praktis tak pernah bertambah atau berkurang. Suatu kali, memang permukaan laut menyusut drastis dan permukaan bumi meluas. Toh, air tak lari ke mana-mana. la cuma terkumpul sebagai gunung es di kedua kutub bumi.
Begitu gunung es mencair, karena perubahan temperatur atmosfer bumi, paras lautpun meluas hingga mengambil porsi 70% dari permukaan bumi seperti saat ini. Kelak, porsi 70% itu bertambah seiring munculnya gejala pemanasan global.
Air adalah salah satu elemen bumi yang paling dinamis. la tidak punya alamat tetap, tidak punya e-mail address, tidak punya kantor, juga tidak memiliki nomor handphone. Ia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan gampang berubah fase mengikuti siklus kehidupan bumi. Suatu kali ia menjadi uap, terbang bersama angin, tumbuh menjadi awan, dan jatuh sebagai hujan di Tanjung Pandan, Pangkalpinang, Toboali, Manggar, Mentok, Koba, Sungailiat, atau bisa jatuh dimana saja di sebuah lokasi yang ribuan kilometer jauhnya dari tempat persinggahan sebelumnya. Di saat yang lain, ia tersimpan sebagai air tanah, terserap akar, naik ke daun, dan atas jasa baik cahaya matahari, bantuan klorofil, dan pelbagai enzim daun, ia pun tersintesis menjadi biomassa yang mengandung energi. Tiba saatnya biomassa itu dikonsumsi oleh makhluk herbivora, termasuk kita, warga Bangka Belitung yang rakus dengan eksploitasi sumberdaya alam, dimetabolismekan, diambil energinya, dan ia pun terurai kembali menjadi C02 dan air. Selanjutnya, air menjalani kembali siklus abadinya.
|